GABSI DIY Bakal Perbanyak Kejuaraan Demi Jaring Bibit Atlet Bridge Potensial
Regenerasi atlet menjadi pekerjaan rumah bagi GABSI DIY. Untuk menemukan lebih banyak pemain muda, organisasi bridge di Yogyakarta itu menyiapkan strategi dengan memperbanyak kejuaraan di tingkat kabupaten dan kota, sekaligus mendorong olahraga ini masuk lebih luas ke lingkungan sekolah.
Ringkasan Artikel:
- GABSI DIY akan memperbanyak kejuaraan tingkat kabupaten dan kota sebagai cara menjaring bibit atlet bridge potensial.
- Regenerasi menjadi perhatian karena dalam beberapa tahun terakhir belum banyak atlet baru yang muncul dari Yogyakarta.
- Gunungkidul menunjukkan keberhasilan pembinaan melalui pelatihan guru olahraga, ekstrakurikuler sekolah, dan pembentukan klub bridge baru.
- GABSI DIY mendorong bridge semakin dikenal pelajar agar pembinaan atlet berjalan sejak dini dan berkelanjutan.
GABSI DIY Siapkan Lebih Banyak Kompetisi untuk Cari Bibit Baru
GABSI DIY bakal memperbanyak kejuaraan bridge di tingkat kabupaten dan kota. Langkah ini disiapkan sebagai bagian dari strategi menjaring bibit atlet sekaligus memperluas kesempatan bagi pemain muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding.
Ketua Pengda GABSI DIY Arianto Wibowo mengatakan kompetisi daerah memiliki fungsi penting dalam proses pembinaan. Atlet tidak hanya mendapat kesempatan menguji kemampuan, tetapi juga dapat mengukur kesiapan mental dan strategi sebelum menghadapi pertandingan pada level yang lebih tinggi.
Kejurda DIY 2026 menjadi salah satu ruang pembinaan tersebut. Kejuaraan yang berlangsung di Komplek Perkantoran Pemkab Bantul II Manding ini diikuti ratusan atlet dengan kategori yang berbeda.
Pada hari pertama, sebanyak 100 atlet atau 50 pasangan bertanding di kategori Mini Bridge, U-13, U-16, dan U-19. Sementara kategori peserta umum digelar pada hari berikutnya.
Menurut Arianto, kejuaraan tersebut menjadi wadah pembinaan sekaligus uji kemampuan atlet sebelum melangkah ke kejurnas maupun turnamen resmi di bawah naungan KONI dan PB GABSI.
Regenerasi Atlet Bridge di Yogyakarta Perlu Dipercepat
Di balik rencana memperbanyak kompetisi, GABSI DIY menghadapi persoalan regenerasi. Arianto mengakui dalam beberapa tahun terakhir belum banyak atlet baru yang lahir sehingga proses pencarian dan pembinaan pemain muda perlu segera diperkuat.Semangat memperkenalkan bridge kepada masyarakat menjadi salah satu cara yang ditempuh. GABSI DIY ingin olahraga ini semakin dikenal, terutama oleh generasi muda dan kalangan pelajar.
Semangat memperkenalkan bridge kepada masyarakat menjadi salah satu cara yang ditempuh. GABSI DIY ingin olahraga ini semakin dikenal, terutama oleh generasi muda dan kalangan pelajar.
Dukungan juga diberikan melalui Kejurda DIY 2026. Untuk kategori kelompok umur, GABSI DIY menggratiskan biaya pendaftaran sebagai bentuk dukungan terhadap regenerasi atlet usia dini.
Arianto menilai potensi atlet bridge di Yogyakarta sebenarnya cukup besar. Namun, cabang olahraga ini masih menghadapi tantangan dalam hal penerimaan di masyarakat serta pengembangan di tingkat nasional yang dinilai belum memperoleh dukungan optimal.
Gunungkidul Tunjukkan Cara Menjaring Atlet dari Sekolah
Gunungkidul menjadi salah satu daerah yang dinilai berhasil melakukan regenerasi atlet bridge. Pengurus setempat mengambil langkah dengan mengundang guru-guru olahraga untuk mengikuti pelatihan khusus agar mengenal skema permainan mini bridge.
Ketua Pengcab GABSI Gunungkidul Trini Eko Dewi mengatakan upaya tersebut dilakukan untuk mengenalkan bridge sekaligus menghilangkan stigma negatif yang menganggap olahraga itu sebagai permainan judi.
Hasilnya, Gunungkidul berhasil menjaring ratusan bibit muda yang kini rutin berlatih setiap Sabtu. Pembinaan juga berkembang ke lingkungan sekolah dengan masuknya bridge sebagai kegiatan ekstrakurikuler di SDN Wonosari, SD Kanisius, dan SMP Al Mujahidin.
Dari proses tersebut, tiga klub bridge baru juga lahir di Gunungkidul. Pengalaman ini kemudian dinilai Arianto layak menjadi contoh bagi daerah lain di DIY dalam membangun regenerasi atlet.
GABSI DIY Dorong Bridge Masuk Sekolah
Setelah melihat pengalaman Gunungkidul dan Sleman, GABSI DIY ingin memperluas pola pembinaan serupa. Organisasi tersebut tengah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga untuk menyosialisasikan bridge ke sekolah-sekolah.
Harapannya, bridge dapat menjadi salah satu pilihan ekstrakurikuler bagi siswa. Dengan begitu, pengenalan olahraga ini tidak hanya bergantung pada kejuaraan, tetapi juga dimulai dari lingkungan pendidikan.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena Pekan Olahraga Pelajar Daerah atau Popda tidak diselenggarakan pada 2027. GABSI DIY berencana memperbanyak kompetisi lokal dan memaksimalkan fungsi sertifikat kejuaraan di daerah agar tetap dapat dimanfaatkan pelajar untuk menambah nilai melalui jalur prestasi.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena Pekan Olahraga Pelajar Daerah atau Popda tidak diselenggarakan pada 2027. GABSI DIY berencana memperbanyak kompetisi lokal dan memaksimalkan fungsi sertifikat kejuaraan di daerah agar tetap dapat dimanfaatkan pelajar untuk menambah nilai melalui jalur prestasi.
Sementara itu, Sleman mengirim enam pasang Mini Bridge, dua pasang U-13, tiga pasang U-16, dan satu pasang U-19. Kota Yogyakarta mengirim satu pasang Mini Bridge, dua pasang U-16, dan enam pasang U-19. Bantul mengirim satu pasang U-16 dan dua pasang U-19, sedangkan Kulon Progo mengirim dua pasang U-13 dan empat pasang U-19.
Kejuaraan tersebut juga melahirkan sejumlah juara dari kelompok usia muda. Di kategori Mini Bridge, pasangan Davit-Elfri menjadi juara pertama, disusul Azwan-Anindya, Ansel-Bintang, dan Arman-Erlangga.
Pada kategori U-13, posisi pertama ditempati pasangan Alisha-Ello, kemudian Rakha-Alfath dan Kevin-Kenzie. Sementara kategori U-16 dimenangi pasangan Nayla-Cinta, disusul Arsakha-Naresh dan Nadhif-Hanna.
Bagi GABSI DIY, semakin banyak ruang kompetisi akan memberi lebih banyak kesempatan bagi pemain muda untuk berkembang. Jika pengenalan bridge juga semakin dekat dengan sekolah dan masyarakat, regenerasi atlet diharapkan tidak berhenti pada satu generasi, tetapi terus melahirkan pemain baru yang siap membawa nama Yogyakarta ke tingkat nasional hingga internasional.
