Belum Genap Sebulan, BYD Haka Sudah Narik Perhatian Warga Jogja
Belum genap sebulan berjalan, BYD Haka Jogja sudah menjual tujuh unit. Farini, yang akrab disapa Rini, mengatakan penjualan itu terjadi saat dealer masih dalam proses renovasi.
Sebagai Brand Consultant BYD Haka Jogja, Rini ikut menjelaskan karakter setiap model kepada calon konsumen. Menurutnya, kebutuhan pengguna menjadi kunci sebelum menentukan mobil yang sesuai.
"Kalau di Jogja, yang Haka baru bulan ini," kata Rini kepada Ekspos Jogja, Kamis (3/9/2026). Aktivitas penjualan kemudian berjalan efektif sekitar dua minggu dan dalam waktu tersebut sudah tujuh unit terjual.
Dealer resmi BYD Haka Jogja sendiri belum melakukan launching karena proses renovasi masih berlangsung. Meski begitu, aktivitas konsultasi dan penjualan sudah mulai berjalan.
Buat Rini, respons awal tersebut cukup menarik karena konsumen datang dengan kebutuhan yang berbeda. Ada yang mencari mobil listrik untuk harian, ada pula yang mulai mempertimbangkan mobil hybrid.
Baru Dua Minggu Efektif, 7 Unit Sudah Terjual
Rini menjelaskan BYD Haka Jogja memang baru berjalan sekitar satu bulan. Namun, jika dihitung dari aktivitas penjualan yang efektif, waktunya baru sekitar dua minggu.
Dalam waktu sesingkat itu, tujuh unit sudah terjual. Angka tersebut menjadi catatan awal Haka Jogja ketika dealer resminya masih menyelesaikan proses renovasi.
Dari beberapa model yang ditawarkan, Atto 1 dan M6 menjadi nama yang paling banyak muncul dalam pembicaraan dengan calon konsumen.
"Kalau unitnya, karena baru running belum ada satu bulan, kemarin sudah terjual tujuh unit," kata Rini.
Atto 1 menjadi model yang paling mendominasi penjualan awal. Rini melihat hal tersebut berkaitan dengan karakter konsumen yang memang membutuhkan kendaraan praktis untuk mobilitas sehari-hari.
Menurutnya, mobil listrik sering kali dibeli sebagai kendaraan tambahan. Konsumen sudah memiliki mobil besar untuk kebutuhan keluarga, kemudian mencari kendaraan yang lebih praktis untuk aktivitas harian.
Karena itu, pendekatan kepada calon pembeli tidak bisa disamaratakan. Rini perlu melihat pola penggunaan mobil terlebih dahulu sebelum menjelaskan model yang paling sesuai.
Cara tersebut membuat pembahasan produk tidak berhenti pada fitur. Konsumen diajak melihat apakah karakter mobil memang cocok dengan kebutuhan perjalanan mereka sehari-hari.
Atto 1 Banyak Dipilih, M6 DM Mulai Dipesan
Selain Atto 1, Rini melihat M6 juga mulai mendapat perhatian. Namun, untuk M6 DM, respons konsumen justru cukup kuat meski unitnya belum tersedia.
"Responsnya sangat positif. Bahkan sampai sekarang sudah banyak yang SPK, sudah banyak yang inden," kata Rini.
Kondisi tersebut menurutnya terjadi karena unit M6 DM memang belum ready. Konsumen yang sudah cocok dengan produknya akhirnya memilih melakukan pemesanan lebih dahulu.
Di sinilah Rini melihat ada perbedaan kebutuhan antara konsumen yang mencari mobil listrik murni dengan mereka yang ingin kendaraan elektrifikasi dengan pilihan tenaga lebih fleksibel.
BYD M6 EV menggunakan tenaga listrik sepenuhnya, sedangkan M6 DM membawa teknologi Dual Mode yang menggabungkan kemampuan berkendara dengan tenaga listrik dan bensin.
Buat calon konsumen yang masih ragu beralih penuh ke mobil listrik, karakter M6 DM bisa menjadi pembahasan tersendiri. Mereka tetap mendapatkan pengalaman berkendara dengan tenaga listrik, tetapi memiliki mesin bensin sebagai bagian dari sistemnya.
Rini menjelaskan karakter tersebut kepada konsumen berdasarkan kebutuhan penggunaannya. Jadi, pembahasan M6 DM bukan hanya soal "bisa listrik atau bensin", tetapi bagaimana kedua sumber tenaga itu menunjang mobilitas.
Rini Jelaskan Sendiri Bedanya Tiap Tipe M6 DM
Product knowledge Rini paling terlihat ketika pembahasan masuk ke M6 DM. Ia tidak hanya menyebut kendaraan tersebut menggunakan kombinasi listrik dan bensin, tetapi juga menjelaskan perbedaan kemampuan antar-tipenya.
Menurut Rini, salah satu tipe M6 DM yang ia sebut sebagai Cross Advanced menggunakan mesin 1.500 cc. Untuk kemampuan berkendara dengan tenaga EV, jaraknya dapat mencapai sekitar 100 kilometer.
Sementara itu, tipe lainnya memiliki jarak tempuh EV sekitar 50 kilometer. Perbedaan ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan calon konsumen sebelum menentukan tipe M6 DM.
Artinya, calon pembeli tidak cukup hanya mengatakan ingin M6 DM. Rini perlu mengetahui kebutuhan perjalanan mereka untuk kemudian menjelaskan tipe mana yang lebih masuk dengan pola penggunaan tersebut.
Dari sisi efisiensi bahan bakar, Rini menyebut M6 DM dapat mencapai sekitar 65 kilometer per liter. Angka tersebut menjadi salah satu hal yang membuat model ini menarik bagi konsumen yang mempertimbangkan kendaraan elektrifikasi.
Laman resmi BYD Haka Jogja sendiri saat ini mencantumkan M6 DM-i sebagai model yang tersedia dengan lima pilihan tipe, sekaligus menonjolkan efisiensi hingga 65 km/liter.
Dengan karakter tersebut, M6 DM tidak sekadar ditawarkan sebagai mobil hybrid. Bagi Rini, yang lebih penting adalah menjelaskan bagaimana teknologi tersebut bekerja sesuai kebutuhan pemiliknya.
Bukan Sekadar Hybrid, Ada Pilihan Tenaga Listrik
Rini juga menjelaskan bahwa penggunaan M6 DM tidak berarti mesin bensin selalu menjadi pilihan utama. Teknologi Dual Mode memungkinkan kendaraan menggunakan tenaga listrik dalam kondisi tertentu.
Hal itu membuat pola penggunaan menjadi penting. Untuk perjalanan sehari-hari dengan jarak yang sesuai, konsumen dapat memanfaatkan kemampuan berkendara menggunakan tenaga EV.
Ketika kebutuhan perjalanan lebih jauh atau kondisi perjalanan berubah, keberadaan mesin bensin memberikan fleksibilitas tambahan. Konsep inilah yang menjadi pembeda utama M6 DM dari M6 listrik murni.
BYD sendiri menyebut teknologi DM sebagai konsep "Bensin Bisa. Listrik Bisa". Artinya, teknologi tersebut memang dirancang untuk memberikan pilihan penggunaan tenaga sesuai kondisi berkendara.
Rini juga menjelaskan kemampuan pengisian dayanya. Untuk pengisian melalui home charging, waktu yang ia sebutkan berada di kisaran tiga jam.
Sementara untuk kemampuan fast charging, Rini menjelaskan bahwa tidak semua tipe memiliki kemampuan yang sama. Karena itu, calon pembeli perlu melihat tipe yang dipilih ketika membandingkan fitur pengisian daya.
Penjelasan seperti ini penting bagi konsumen yang baru pertama kali mempertimbangkan kendaraan elektrifikasi. Mereka bukan hanya perlu tahu jarak tempuh, tetapi juga memahami bagaimana mobil akan diisi dan digunakan.
Teknologi Bukan Satu-satunya yang Ditanya Konsumen
Menurut Rini, pembahasan dengan calon pembeli tidak selalu berhenti pada spesifikasi. Ada pertanyaan lain yang justru berkaitan dengan rasa percaya terhadap merek dan layanan setelah mobil digunakan.
Rini menyebut BYD sudah memiliki posisi yang kuat di kendaraan listrik. Latar belakang BYD sebagai produsen baterai juga menurutnya menjadi salah satu alasan konsumen lebih percaya terhadap teknologi yang digunakan.
Secara historis, BYD memang memulai bisnisnya sebagai perusahaan baterai pada 1995 sebelum berkembang ke teknologi kendaraan listrik. BYD Indonesia juga menjelaskan penggunaan Blade Battery dalam pengembangan kendaraan listriknya.
Bagi Rini, pengetahuan mengenai teknologi tersebut penting ketika berhadapan dengan konsumen yang masih memiliki kekhawatiran soal kendaraan listrik.
Namun, konsumen juga mempertanyakan layanan setelah pembelian. Jaringan bengkel menjadi salah satu hal yang menurut Rini ikut diperhatikan sebelum seseorang memutuskan membeli mobil listrik.
Ia menyebut jaringan BYD sudah tersedia di sejumlah daerah, termasuk Magelang dan Klaten. Keberadaan jaringan tersebut menjadi bagian dari pertimbangan konsumen yang ingin memastikan mobil tetap mendapat dukungan setelah digunakan.
Jadi, ketika menjelaskan BYD kepada calon pembeli, Rini tidak hanya bicara soal mobil. Ia juga menjelaskan teknologi, pola penggunaan, layanan, hingga hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih model.
Haka Jogja Baru Mulai, Konsumen Sudah Mulai Memilih
Kehadiran BYD Haka Jogja memang masih tergolong baru. Dealer resminya bahkan masih menyelesaikan renovasi dan belum melakukan launching.
Namun, aktivitas penjualan sudah berjalan efektif sekitar dua minggu. Dalam waktu tersebut, tujuh unit sudah terjual dengan Atto 1 menjadi model yang paling mendominasi.
Di sisi lain, M6 DM mulai menunjukkan respons berbeda. Meski unit belum ready, sudah banyak calon konsumen yang melakukan SPK dan inden.
Bagi Rini, kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumen Jogja tidak hanya mencari satu jenis kendaraan. Ada yang membutuhkan mobil listrik untuk aktivitas harian, sementara lainnya tertarik dengan fleksibilitas teknologi Dual Mode.
Karena itu, tugas Brand Consultant bukan sekadar menunjukkan mobil kepada calon pembeli. Rini juga perlu memahami kebutuhan pengguna lalu menerjemahkannya ke dalam pilihan produk yang tepat.
Calon konsumen yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai model BYD, termasuk Atto 1 dan M6 DM, dapat berkonsultasi langsung dengan Rini.
Farini atau Rini dapat dihubungi melalui 0887-0788-0788. Dealer BYD Haka Yogyakarta berada di Jl. Kolonel Sugiyono No.69, Keparakan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta, DIY 55152. Alamat tersebut juga tercantum pada situs resmi BYD Haka Jogja.
Belum genap sebulan berjalan, BYD Haka Jogja sudah menjual tujuh unit. Di saat yang sama, Atto 1 mendominasi penjualan dan M6 DM mulai banyak dipesan meski unitnya belum ready.
