Nikmati Pagi di Jogja, Saat Riuh Titik Nol Justru Menenangkan Pikiran
Pukul enam pagi, Titik Nol Kilometer Yogyakarta belum sepenuhnya ramai. Matahari baru naik, sementara fasad bangunan-bangunan lama di sekitarnya mulai memantulkan cahaya.
Ada waktu ketika Titik Nol Kilometer bukan sekadar tempat orang lewat. Pagi hari, sebelum kota benar-benar sibuk, ruang ini bisa menjadi tempat sederhana untuk berhenti dan mendengarkan isi kepala sendiri. - Pierre Pratama, Pemimpin Redaksi Ekspos Jogja Group
Di pelataran batu dan kursi taman yang masih lengang, saya memilih duduk selama tiga jam. Bukan untuk mengejar sesuatu, melainkan justru memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk tidak melakukan apa-apa.
Berjemur menjadi alasan yang cukup sederhana untuk berada di sana. Tetapi setelah beberapa saat, yang terasa penting bukan lagi soal matahari pagi atau manfaatnya bagi tubuh.
Ada jeda yang muncul ketika seseorang tidak segera mengikuti ritme kota. Pikiran yang biasanya bergerak dari satu urusan ke urusan lain perlahan mendapat ruang untuk berjalan tanpa tujuan.
Menariknya, ketenangan itu tidak datang dari suasana yang benar-benar sunyi. Justru sebaliknya, Titik Nol mulai diisi suara-suara kecil dari kehidupan yang baru bergerak.
Motor pertama melintas di Jalan Ahmad Dahlan. Pedagang kaki lima mulai merapikan lapak. Burung merpati sesekali turun dan mencari remah makanan di sekitar pelataran.
Kota perlahan menjadi ramai, tetapi keramaian itu tidak terasa sebagai gangguan. Ada sesuatu yang menenangkan dari melihat kehidupan berjalan seperti biasanya.
Barangkali karena suara-suara tersebut membuat persoalan di dalam kepala terasa lebih proporsional. Urusan kecil tetap ada, beban hidup yang abstrak belum hilang, tetapi semuanya tidak lagi terasa sebagai satu-satunya hal yang memenuhi dunia.
Tiga jam di Titik Nol juga membuat saya berpikir bahwa mencari ketenangan tidak selalu berarti harus pergi jauh. Tidak selalu membutuhkan tempat terpencil, suasana hening, atau perjalanan keluar kota.
Kadang, ruang untuk berpikir justru tersedia di tempat yang setiap hari dilewati banyak orang. Di tengah lalu lintas, bangunan tua, pedagang, wisatawan, dan warga yang menjalankan rutinitasnya.
Di jantung kota seperti ini, seseorang tidak benar-benar mengasingkan diri. Ia hanya mengambil jarak sebentar dari kesibukannya sendiri.
Mungkin itu yang membuat pagi di Titik Nol terasa berbeda. Kita tidak perlu menghentikan dunia agar bisa tenang. Cukup duduk, membiarkan kota bergerak, lalu memberi kesempatan kepada pikiran untuk mengejar dirinya sendiri.
Ketika pukul sembilan tiba, Jogja sudah jauh lebih terjaga. Tiga jam mungkin tidak mengubah keadaan apa pun di luar sana.
Tetapi bagi seseorang yang menjalaninya, waktu sesingkat itu bisa menjadi pengingat bahwa berhenti sejenak bukan berarti tertinggal. Kadang, justru dari situlah kita bisa kembali berjalan dengan kepala yang sedikit lebih ringan.
