Kalah Konsumtif, Komisi B DPRD DIY Soroti Kredit Produktif BPD DIY
Portofolio kredit BPD DIY Cabang Senopati mencapai Rp1,226 triliun per 31 Agustus 2026. Dari jumlah itu, kredit konsumtif masih sedikit lebih besar, yakni Rp632 miliar, dibanding produktif Rp593 miliar.
Kredit produktif BPD DIY Cabang Senopati hampir menyamai kredit konsumtif, tetapi porsi UMKM sudah mencapai 81,2 persen dari kredit produktif. Komisi B DPRD DIY mendorong pembiayaan usaha dan transaksi digital diperluas.
Komposisi tersebut menjadi perhatian Komisi B DPRD DIY saat memantau kinerja BPD DIY pada Rabu (30/9/2026). Sebab, kredit produktif punya peran lebih langsung dalam membiayai usaha, termasuk UMKM yang menggerakkan ekonomi lokal.
Dari Rp593 miliar kredit produktif, sebanyak Rp481 miliar atau 81,2 persen mengalir ke sektor UMKM. Angka ini menunjukkan porsi pembiayaan UMKM sudah besar, meski total kredit produktif secara keseluruhan masih belum melewati kredit konsumtif.
Di sisi lain, kinerja keuangan Cabang Senopati tergolong kuat. Per Agustus 2026, aset mencapai Rp2,426 triliun, DPK Rp2,358 triliun, dan laba bersih Rp52,35 miliar, dengan dana murah mencapai 63,99 persen.
Komisi B juga menyoroti digitalisasi transaksi agar BPD DIY tak kehilangan pasar lokal. Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY Danang Wahyu Broto mendorong QRIS BPD DIY lebih banyak digunakan pedagang pasar dan UMKM.
Saat ini terdapat 44.813 pengguna mobile banking, 19.478 merchant QRIS/QUAT, serta 270 agen Laku Pandai di bawah Cabang Senopati. Jumlah tersebut menjadi basis untuk memperluas transaksi digital di tengah persaingan bank nasional dan fintech.
Kontribusi BPD DIY juga masuk ke kas daerah. Dari laba 2025, Pemkot Yogyakarta menerima setoran dividen Rp33,64 miliar pada 2026, sementara CSR yang direalisasikan mencapai Rp2,55 miliar.
Dana CSR tersebut diarahkan untuk kebutuhan seperti penanganan stunting, rumah tidak layak huni, pendidikan, dan kesehatan. Bagi daerah, kinerja bank bukan hanya soal laba, tetapi juga seberapa besar manfaatnya kembali ke masyarakat.
