Ekspos Jogja

  • Berita Daerah
  • _Ekspos Kota Jogja
  • _Ekspos Sleman
  • _Ekspos Gunungkidul
  • _Ekspos Bantul
  • _Ekspos Kulon Progo
  • Berita Jogja
  • Wisata Jogja
  • Kuliner Jogja
  • Seputar Jogja
  • Sejarah Jogja
  • Sekitar Jogja
  • Beranda
  • Sejarah Jogja

Pajeksan, Jalan Kecil di Barat Malioboro, Dulunya Kampung Para Jaksa

Oleh Ekspos Jogja
Oktober 05, 2026

Pajeksan hari ini mungkin cuma terlihat seperti jalan kecil di barat Malioboro. Tapi nama itu menyimpan cerita tentang ketika sebuah kampung bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari mesin hukum Keraton Yogyakarta.

Pajeksan hari ini lebih dikenal sebagai jalan pendukung Malioboro, tempat kuliner, penginapan, dan lalu lintas wisata. Tapi nama itu menyimpan jejak ketika kawasan tersebut menjadi tempat tinggal para Abdi Dalem Jeksa yang mengurus hukum dan peradilan Keraton.

Nama Pajeksan berakar dari kata jeksa atau jaksa. Toponim ini merujuk pada kawasan tempat tinggal para Abdi Dalem Jeksa, orang-orang yang berkaitan dengan urusan hukum, persidangan, dan peradilan di lingkungan kerajaan.

Menariknya, Pajeksan tidak berdiri sendirian. Di sekitarnya ada kampung-kampung yang dulu dihuni abdi dalem dengan tugas berbeda, seperti Gandekan untuk utusan kerajaan dan Mertolulutan yang berkaitan dengan pelaksanaan hukuman.

Jadi, nama-nama kampung di barat Malioboro sebenarnya seperti peta pekerjaan masa lalu. Sebelum kawasan ini dikenal lewat toko, hotel, kuliner, dan lalu lintas wisatawan, ruang kota sudah dibentuk oleh fungsi dan tugas kerajaan.

Perubahan datang ketika Yogyakarta berkembang sebagai kota perdagangan. Stasiun Tugu, Pasar Beringharjo, dan Malioboro membuat kawasan sekitar Pajeksan ikut bergerak dari permukiman berbasis tugas kerajaan menuju ruang niaga yang lebih beragam.

Jejak perubahan itu terlihat dari bangunan dan aktivitasnya. Ruko bergaya Indische serta pengaruh Tionghoa-Jawa muncul berdampingan dengan fungsi hunian dan usaha, sementara komunitas perdagangan dari kawasan sekitar ikut membentuk wajah Pajeksan.

Hari ini Pajeksan lebih mudah dibaca sebagai jalan pendukung Malioboro, lengkap dengan kuliner, oleh-oleh, penginapan, dan lalu lintas wisata. Justru di situlah ironi kecilnya: sejarah sebuah kawasan bisa nyaris kalah terlihat oleh fungsi barunya.

Mungkin Pajeksan tidak perlu diperlakukan sebagai museum terbuka. Cukup disadari bahwa ketika orang melewati jalan itu untuk mencari makan atau menuju Malioboro, mereka sebenarnya sedang melintasi bekas ruang para penjaga hukum sebuah kerajaan.

Tags:
  • Sejarah Jogja
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Lebih Banyak
Berita Populer
  • Komisi C DPRD DIY Tinjau Jaringan Irigasi untuk Pertanian Jogotirto

    September 25, 2026
    Komisi C DPRD DIY Tinjau Jaringan Irigasi untuk Pertanian Jogotirto
  • Harian atau Masa Depan? BPD DIY Punya Tabungan Sesuai Kebutuhan

    September 14, 2026
    Harian atau Masa Depan? BPD DIY Punya Tabungan Sesuai Kebutuhan
  • Komisi A DPRD DIY Dorong Penataan Malioboro Libatkan Banyak Sektor

    Agustus 28, 2026
    Komisi A DPRD DIY Dorong Penataan Malioboro Libatkan Banyak Sektor
  • Kalah Konsumtif, Komisi B DPRD DIY Soroti Kredit Produktif BPD DIY

    Oktober 04, 2026
    Kalah Konsumtif, Komisi B DPRD DIY Soroti Kredit Produktif BPD DIY
  • 19-20 September 2026, Jogja Windwave 2026 di Pantai Depok Bantul

    September 16, 2026
    19-20 September 2026, Jogja Windwave 2026 di Pantai Depok Bantul
Kategori Populer
  • Berita Jogja
  • Kuliner Jogja
  • Sejarah Jogja
  • Sekitar Jogja
  • Seputar Jogja
  • Wisata Jogja
Copyright © 2026 Ekspos Jogja. All rights reserved.