Pajeksan, Jalan Kecil di Barat Malioboro, Dulunya Kampung Para Jaksa
Pajeksan hari ini mungkin cuma terlihat seperti jalan kecil di barat Malioboro. Tapi nama itu menyimpan cerita tentang ketika sebuah kampung bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari mesin hukum Keraton Yogyakarta.
Pajeksan hari ini lebih dikenal sebagai jalan pendukung Malioboro, tempat kuliner, penginapan, dan lalu lintas wisata. Tapi nama itu menyimpan jejak ketika kawasan tersebut menjadi tempat tinggal para Abdi Dalem Jeksa yang mengurus hukum dan peradilan Keraton.
Nama Pajeksan berakar dari kata jeksa atau jaksa. Toponim ini merujuk pada kawasan tempat tinggal para Abdi Dalem Jeksa, orang-orang yang berkaitan dengan urusan hukum, persidangan, dan peradilan di lingkungan kerajaan.
Menariknya, Pajeksan tidak berdiri sendirian. Di sekitarnya ada kampung-kampung yang dulu dihuni abdi dalem dengan tugas berbeda, seperti Gandekan untuk utusan kerajaan dan Mertolulutan yang berkaitan dengan pelaksanaan hukuman.
Jadi, nama-nama kampung di barat Malioboro sebenarnya seperti peta pekerjaan masa lalu. Sebelum kawasan ini dikenal lewat toko, hotel, kuliner, dan lalu lintas wisatawan, ruang kota sudah dibentuk oleh fungsi dan tugas kerajaan.
Perubahan datang ketika Yogyakarta berkembang sebagai kota perdagangan. Stasiun Tugu, Pasar Beringharjo, dan Malioboro membuat kawasan sekitar Pajeksan ikut bergerak dari permukiman berbasis tugas kerajaan menuju ruang niaga yang lebih beragam.
Jejak perubahan itu terlihat dari bangunan dan aktivitasnya. Ruko bergaya Indische serta pengaruh Tionghoa-Jawa muncul berdampingan dengan fungsi hunian dan usaha, sementara komunitas perdagangan dari kawasan sekitar ikut membentuk wajah Pajeksan.
Hari ini Pajeksan lebih mudah dibaca sebagai jalan pendukung Malioboro, lengkap dengan kuliner, oleh-oleh, penginapan, dan lalu lintas wisata. Justru di situlah ironi kecilnya: sejarah sebuah kawasan bisa nyaris kalah terlihat oleh fungsi barunya.
Mungkin Pajeksan tidak perlu diperlakukan sebagai museum terbuka. Cukup disadari bahwa ketika orang melewati jalan itu untuk mencari makan atau menuju Malioboro, mereka sebenarnya sedang melintasi bekas ruang para penjaga hukum sebuah kerajaan.
