Ketika Film Mengajak Kita Melihat Warisan Budaya dengan Cara Lain
Warisan budaya sering kali lebih mudah dikenali ketika bentuknya masih terlihat. Bangunan lama, jalan, kawasan bersejarah, atau benda yang tersisa dari masa lalu membuat kita merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang perlu dijaga.
Kotabaru tidak hanya menyimpan bangunan dan jejak masa lalu. Ada cerita, ingatan, kebiasaan, dan pengalaman yang ikut membentuk cara sebuah kota dikenali. Lewat film, semua itu coba dilihat kembali.
Tetapi ada warisan lain yang bentuknya tidak selalu bisa dilihat. Ia hidup dalam cerita, ingatan, kebiasaan, juga pengalaman orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya.
Pertanyaan tentang warisan seperti itulah yang coba dibuka kembali melalui Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026.
Sejak pertama digelar pada 2023, KHFF membuka ruang untuk melihat kembali apa yang selama ini kita kenali sebagai warisan budaya.
Bukan hanya sesuatu yang berwujud, tetapi juga hal-hal yang terus hidup karena diceritakan, diingat, dilakukan, dan dialami.
Film kemudian menjadi salah satu cara untuk melihat warisan itu dari sudut yang berbeda. Sebab sebuah film tidak selalu harus membawa kita jauh ke masa lalu.
Kadang film justru membuat kita melihat sesuatu yang setiap hari ada di sekitar, tetapi justru luput dari perhatian kita.
Di Yogyakarta, misalnya, sebuah kawasan tidak hanya terdiri dari bangunan dan jalan. Ada manusia yang melintas, kebiasaan yang terbentuk, cerita yang diwariskan, serta pengalaman yang membuat sebuah tempat memiliki arti lebih dari sekadar alamat.
Itulah yang membuat festival semacam ini menarik. Film tidak berhenti pada upaya mengenalkan warisan budaya, tetapi membuka percakapan tentang bagaimana warisan itu dipahami hari ini.
Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 akan berlangsung pada 17, 18 dan 19 September 2026 di Pasar Terban dan PDIN Kota Yogyakarta.
Programnya cukup beragam. Ada pemutaran film dan diskusi, workshop, masterclass, public lecture, hingga awarding night.
Pembukaannya bahkan menggunakan salah satu bagian yang lekat dengan kehidupan dan mobilitas di Kota Yogyakarta, yaitu becak.
Melalui Drive-in Cinema Becak, pengalaman menonton film ditempatkan berdampingan dengan salah satu moda transportasi yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian kota.
Di situ, film dan kota seperti bertemu di satu tempat. Yang satu bercerita melalui gambar dan suara. Yang lain menyimpan ceritanya melalui jalan, manusia, kebiasaan, dan ingatan.
Mungkin memang begitu cara lain memahami warisan budaya.
Film tidak selalu harus ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh, tua, dan selesai.
Warisan bisa saja masih berada di sekitar kita. Bahkan mungkin sedang bergerak, berubah, dan menemukan bentuk baru.
Dan lewat film, cerita-cerita itu punya kesempatan untuk dilihat kembali.
Bukan sekadar untuk mengenang apa yang pernah ada, tetapi untuk bertanya. Dari semua yang masih kita lihat dan rasakan di kota ini, apa yang sebenarnya ingin kita teruskan?
Pertanyaan itu barangkali tidak harus langsung punya jawaban.
Kadang cukup dengan duduk, menonton sebuah film, lalu menyadari bahwa tempat yang selama ini terasa biasa ternyata menyimpan cerita yang belum selesai.

