Notifikasi
General

Saat Jogja Kembali Bergoyang yang Retak Bukan Cuma Tanah

Gempa Jogja Tahun 2006

Siang ini Jogja bergoyang. Magnitudonya 4,4 skala richter, angka yang bagi sebagian orang mungkin terdengar kecil, tapi cukup untuk membangunkan ingatan kolektif yang selama ini pura-pura tidur.

Dalam hitungan menit, lebih dari 14 kali gempa susulan tercatat. Tanah belum benar-benar tenang, dan ingatan kita ikut berderak. Ini bukan getaran biasa. Setidaknya bukan bagi Jogja.

Sebab Jogja pernah berada di titik yang lebih gelap. Tahun 2006, magnitudonya 5,9 skala richter berpusat di darat Bantul menewaskan 6.234 jiwa. Rumah runtuh, keluarga terbelah, dan trauma diwariskan lintas generasi. Hingga hari ini, setiap getaran kecil selalu terdengar lebih keras di kepala orang Jogja.

Hampir 20 tahun berlalu. Banyak hal berubah, mal tumbuh, hotel menjamur, sawah menyempit. Tapi satu hal tetap, Jogja masih berdiri di atas patahan aktif bernama Sesar Opak.

Kajian ilmiah menyebut, energi pada patahan ini tidak sepenuhnya terlepas pada gempa besar 2006. Artinya sederhana tapi mengganggu, potensi gempa selalu ada. Bukan ramalan hari dan tanggal, bukan pula hitungan mundur menuju kiamat, melainkan risiko geologis yang melekat, suka tidak suka.

Masalahnya, narasi publik sering terjebak pada dua ekstrem. Panik berlebihan atau abai total. Padahal sains kebencanaan tidak bekerja dengan kepastian waktu, melainkan probabilitas. Periode ulang puluhan tahun bukan jadwal janji temu, tapi peringatan statistik bahwa alam punya ingatan lebih panjang dari kita.

Namun yang paling mengkhawatirkan bukan gempa itu sendiri, melainkan kesiapan Jogja menghadapinya.

Sudah hampir dua dekade sejak 2006. Harusnya tidak lagi bertanya-tanya apakah gempa akan terulang. Melainkan mitigasi apa yang sekiranya benar-benar sudah disiapkan? Berapa banyak rumah yang dibangun tahan gempa, bukan sekadar tahan kredit? Seberapa serius tata ruang diperhitungkan, ketika hotel dan perumahan terus berdiri di zona rawan?

Kesiapsiagaan sering berhenti di spanduk sosialisasi dan simulasi tahunan. Setelah itu, kita kembali pada rutinitas, seolah alam bisa diajak kompromi. Padahal gempa tidak menunggu kita siap. Gempa hanya patuh pada hukum geologi, bukan kalender pembangunan.

Pernyataan BMKG pun sejatinya jelas. Bukan semata alarm kepanikan, melainkan ajakan kesiapsiagaan. Tapi di ruang publik yang gemar sensasi, imbauan sering dipelintir jadi prediksi, dan prediksi berubah jadi ketakutan massal. Jogja kembali bergetar hari ini. Yang bergetar seharusnya bukan hanya tanah, tapi juga kesadaran kita. Bahwa hidup di wilayah rawan bencana bukan soal menunggu bencana, melainkan soal bersiap tanpa henti. Sebab ketika gempa benar-benar datang, yang diuji bukan ramalan, tapi kebijakan, tata ruang, dan pada akhirnya keadilan bagi warga yang paling rentan. Dan di situlah Jogja selalu punya pekerjaan rumah yang sama, sejak 2006 hingga hari ini.
Kembali ke atas