Liburan Ideal Bukan Cuma Foto Estetik di Tengah Ancaman
DIY selalu punya bakat jadi magnet. Mau hujan, mendung, atau Merapi masih batuk-batuk kecil, orang tetap datang. Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 diprediksi kembali membawa jutaan wisatawan ke DIY. Dari yang niat healing, mudik rasa piknik, sampai yang sekadar pengin foto di Malioboro lalu pulang sambil macet.
Di tengah euforia itu, Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, mengingatkan satu hal yang sering dilupakan saat liburan. Keselamatan bukan bonus, tapi syarat utama.
Eko meminta Pemda DIY tidak larut dalam hitung-hitungan target kunjungan wisata semata. Apalagi, suasana nasional sedang tidak sepenuhnya baik-baik saja. Banjir di sejumlah wilayah Sumatera jadi pengingat bahwa alam sedang sensitif. Jogja pun tak sepenuhnya aman dari ancaman cuaca ekstrem.
"Yogyakarta ini bukan cuma tempat liburan orang luar, tapi juga ruang hidup warganya sendiri," kata Eko. Maka, menurutnya, liburan seharusnya dimaknai secara lebih sederhana—tidak harus ramai-ramai, apalagi nekat.
DPRD DIY mendorong pemda dan pemerintah kabupaten dan kota untuk benar-benar menjamin rasa aman, nyaman, dan selamat bagi siapa pun yang berwisata. Bukan sekadar spanduk imbauan, tapi kerja nyata di lapangan.
Salah satu yang disorot adalah urusan mitigasi bencana. Eko menegaskan, Dinas Pariwisata tak bisa bekerja sendirian. Koordinasi lintas dinas wajib dilakukan, terutama untuk destinasi rawan seperti pantai selatan, kawasan perbukitan, hingga wilayah sekitar Gunung Merapi—yang status siaganya masih bertahan sejak 2020.
Cuaca yang tak menentu, hujan lebat, potensi longsor, hingga ancaman erupsi Merapi membuat standar keamanan tempat wisata tak bisa ditawar. "Pemda harus memastikan, tempat wisata itu sudah siap atau belum. Jangan baru sibuk setelah kejadian," katanya.
Tak hanya pemerintah, Eko juga menyinggung kebiasaan wisatawan, dan warga lokal, yang sering terlalu percaya diri. Ia mengajak publik menyusun rencana perjalanan dengan sedikit riset, misalnya dengan memeriksa prakiraan cuaca lewat aplikasi BMKG. Jadi, tidak ada lagi cerita hujan deras disalahkan sebagai takdir liburan.
"Cek dulu cuaca di Malioboro, Kaliurang, atau Pantai Selatan. Supaya kolaborasi antara pemda dan masyarakat itu nyambung," katanya.
Soal lalu lintas dan keramaian, DPRD DIY juga meminta konsolidasi relawan serta sinergi Polda DIY, TNI, dan masyarakat. Rekayasa lalu lintas yang aman dinilai krusial, terutama di momen puncak tahun baru. Eko bahkan mengingatkan hal yang sering dianggap sepele, jangan karena euforia pergantian tahun lalu lupa pakai helm atau abai mengecek kondisi kendaraan.
Sekretaris Komisi A DPRD DIY, Syarief Guska Laksana, mengamini hal tersebut. Menurutnya, Jogja bukan hanya tujuan wisata, tapi juga daerah mudik. Kombinasi itu membuat beban wilayah meningkat drastis saat Nataru.
Di tengah ancaman cuaca ekstrem, kesiapsiagaan semua pihak menjadi kunci. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi agar liburan tetap pulang membawa cerita—bukan berita duka. Karena di Jogja, liburan ideal bukan cuma soal foto estetik, tapi juga soal pulang dengan selamat.






