Jangan Sampai Resolusi Tahun 2026 Diawali Berita Duka
Kalau liburan Tahun Baru selalu identik dengan jalan macet, pantai penuh manusia, dan feed Instagram yang isinya healing, DPRD DIY tampaknya ingin menambahkan satu hal penting, jangan sok kebal cuaca.
Menyambut pergantian tahun 2026, Komisi A DPRD DIY mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar tidak memaknai liburan secara ugal-ugalan di tengah kondisi cuaca yang belakangan gemar bikin kejutan.
Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, menilai bahwa euforia liburan kerap membuat orang lupa satu hal krusial, alam tidak sedang dalam mood bercanda. Bencana hidrometeorologi di berbagai daerah menjadi pengingat bahwa liburan tidak selalu ramah kamera.
"Liburan Tahun Baru sebaiknya dimaknai secara sederhana, tidak berlebihan, dan tetap mengedepankan kehati-hatian," kata Eko. Intinya jelas. Silakan liburan, tapi jangan merasa lebih sakti dari hujan, angin, dan gelombang tinggi.
DIY, yang hampir selalu jadi tujuan wisata favorit saat libur panjang, diminta bersiap bukan hanya soal destinasi, tapi juga risiko. Wisatawan diimbau untuk tidak asal berangkat hanya karena pengin kabur sebentar.
Prakiraan cuaca dari BMKG yang sering diabaikan karena kalah pamor dari Google Maps diminta benar-benar dijadikan pegangan.
Menurut Eko, informasi cuaca bukan pelengkap, tapi alat mitigasi. Mengabaikannya sama saja dengan menyerahkan keselamatan pada nasib dan doa ibu.
Tak hanya masyarakat, Komisi A juga menagih kesiapan pemerintah daerah. Pemda DIY bersama pemerintah kabupaten dan kota diminta memastikan keamanan, kenyamanan, hingga keselamatan publik selama masa libur Natal dan Tahun Baru.
Koordinasi lintas sector yang sering terdengar klise diingatkan agar tidak berhenti di rapat dan spanduk imbauan.
Destinasi wisata, terutama di kawasan rawan seperti pantai selatan, perbukitan, dan pegunungan, diminta benar-benar siap secara mitigasi bencana.
Bukan sekadar papan peringatan yang dipasang setelah kejadian, tapi sistem yang bekerja sebelum musibah datang.
Sekretaris Komisi A DPRD DIY, Syarif Guska Laksana, menambahkan bahwa Natal dan Tahun Baru adalah agenda rutin, tapi risikonya tidak pernah sama. Artinya, pola penanganannya juga tidak bisa copy-paste dari tahun sebelumnya.
"Nataru selalu berulang, tapi tantangannya berbeda. Karena itu, kesiapsiagaan semua pihak menjadi sangat penting," katanya.
Di jalan raya, cerita klasik soal lonjakan kendaraan kembali muncul. Pemda DIY dan Polda DIY diminta menyiapkan rekayasa lalu lintas yang tidak hanya fokus pada kelancaran, tapi juga keselamatan. Masyarakat pun diingatkan, aturan lalu lintas bukan saran, apalagi hiasan.
Pada akhirnya, pesan Komisi A DPRD DIY cukup sederhana dan masuk akal. Liburan seharusnya menyenangkan, bukan menambah daftar korban.
Dengan kerja sama pemerintah, aparat, relawan, media, dan warga, Tahun Baru 2026 diharapkan bisa dirayakan tanpa drama yang tidak perlu.
Karena jujur saja, resolusi awal tahun akan terdengar ironis kalau dibuka dengan kabar duka.






